Honest, appreciate, and love in peace

Kamis, 12 September 2013

After Waiting The Rain 1 [Fan Fiction]


PROLOG (PART SATU)
Hujan. Jika aku mampu, jika aku bisa, aku ingin membenci hujan. Tapi kenangan manis dibalik rasa sakit ini membuatku bertahan. Menunggu. Menunggu saat hujan berhenti dan kau datang lagi....

14 Februari 2007
                Ify masih duduk di gazebo menunggu hujan reda. Matanya mengedar  ke sekeliling taman kompleks, menanti seseorang. Dia masih memakai seragam putih merah dengan dasi yang masih melingkar di leher. Masih terngiang-ngiang ucapan Rio, temannya, di sekolah tadi. Ify sendiri bingung. Rio adalah siswa baru di SD An-Nisa, sekolah Ify. Sejak seminggu yang lalu tepatnya, Ify tahu Rio sering memperhatikannya. Ify pikir Rio ingin berteman dengannya. Tapi ucapannya tadi pagi....
                Ify baru saja keluar dari toilet ketika seseorang menepuk bahunya. Dahi mereka hampir saja bertubrukkan karena Ify berbalik. Ternyata Rio, anak baru yang –katanya- pendiam. Ify tersenyum ramah. Tinggi mereka hampir sama. Mungkin Ify lebih tinggi 1 cm.
“Hari ini kan valentine.” Ify mengangguk heran sambil menerima cokelat yang disodorkan Rio. Sebenarnya dia sendiri juga tidak tau apa itu valentine. Hari nasionalkah?
“Aku tunggu kamu di taman kompleksmu, ya. Nanti kalau hujan, kamu jangan pulang dulu. Mungkin aku akan datang saat hujan reda nanti. Aku janji.”
Ify mengangguk sambil mengerenyit heran. Dia sama sekali tidak mengerti, bahkan belum sempat Ify menanyakan untuk apa mereka harus bertemu di taman kompleks pun, Rio sudah berlari meninggalkannya.
                Hujan sudah hampir reda. Ify masih menunggu gelisah. Kalau hujan reda dan Rio belum juga datang, dia akan pulang. Atau Rio hanya ingin mengerjainya? Jahat sekali. Ify mendengus, ingin marah tapi jatuhnya menangis. Dia juga ingin berteman dengan Rio. Tapi Ify sendiri bingung, dulu waktu Sivia mengajaknya berteman, Sivia juga tidak mengajak Ify ke taman untuk menjalin persahabatan.
 Hujan sudah benar-benar reda, hanya saja masih meninggalkan percikan air ditambah air mata Ify. Gadis kecil itu memilih untuk pulang. Dia berjanji tidak akan berbicara dengan Rio kalau besok mereka ketemu di sekolah. Ify benci Rio.
                                                                                *****
                Pak Gio masih sibuk membereskan pekerjaannya. Ternyata memaksa anak semata wayangnya ini cukup sulit. Baru sekali ini Rio, putranya, mendapatkan teman di sekolah baru sampai-sampai tidak ingin pergi lagi. Padahal sebelumnya Rio selalu menurutinya yang selalu pindah dari pulau ke pulau atau negara ke negara, sejak kejadian itu.
“Sebentar saja, Pa!” Teriak Rio sambil mengeluarkan sepeda. Papanya sudah meneriaki karena hujan yang tadi reda sudah turun kembali. Rio sendiri sampai lupa, dan baru ingat ketika dia melihat sebuket bunga mawar untuk Ify. Rio harap gadis itu masih ada di taman. Setidaknya Rio ingin memberikan sebuket bunga ini untuk kenangan, karena Rio tahu. Belum tentu esok hari dia akan kembali ke Jakarta dan bertemu Ify.
                Rio sudah basah kuyup. Namun sampai di taman, Rio tidak menemukan siapa-siapa. Dia hanya melihat seorang bapak-bapak yang sedang menyapu salah satu gazebo. Rio menghampirinya sambil berusaha agar bunga dalam pelukannya tidak basah. Hujan berubah menjadi gerimis, dan reda begitu Rio sampai di dekat bapak-bapak itu.
“Permisi, Pak. Apa tadi ada anak gadis disini? Rambutnya digerai dengan jepit warna putih. Masih memakai seragam SD. Anaknya.... cantik. Ada?” Tanya Rio ragu. Takut mengganggu bapak-bapak tersebut. Tapi tak urung dia juga tersenyum ketika bapak itu menoleh dan tersenyum padanya.
“Tadi ada seorang gadis duduk disini. Sepertinya mencari orang. Tadinya bapak mau menghampiri, bapak kira dia kehilangan ibunya. Eh, setelah hujan reda dia pergi. Jadi bapak pikir dia mampir ke taman untuk berteduh.” Jawab bapak itu lalu meneruskan pekerjaannya.
“Oh.... boleh saya titip ini, Pak?” Rio menyodorkan sebuket bunga.
Bapak itu menerimanya dengan bingung.
“Saya Rio.... kasih ini ke gadis itu, ya. Itupun kalo dia.... kesini lagi.” Suara Rio merendah. Untuk pertama kalinya dia merasa tertarik pada seseorang, tapi justru malah seperti ini jadinya. Ify pasti kecewa. Rio kan sudah janji setelah hujan berhenti dia akan datang. Tapi ternyata, janji tetaplah janji, bukan pertemuan singkat seperti yang Rio harapkan.
                                                                                *****
                Bekas hujan tadi malam membasahi daun-daun depan rumah Ify.  Sepertinya musim hujan berjalan lebih lama ketimbang musim panas. Akhir-akhir ini Ify juga sering berangkat dengan Sivia, sahabatnya sejak kecil, tidak menggunakan sepeda lagi, melainkan diantar oleh Ayah Sivia atau Ayah Ify.
                Pagi ini Ify memasang tampang seangkuh mungkin. Dia tidak akan berbicara pada Rio selama di sekolah. Ify yakin Rio akan menjelaskan sesuatu. Sambil bercermin, Ify tersenyum kemudian cemberut. Ia cepat-cepat keluar kamar ketika terdengar teriakan seseorang dari ruang tamu.
“Sebentar Sivia!”
                                                                                *****
                Ify mengedarkan pandangannya. Rio belum juga datang. Padahal jam sudah menunjukkan hampir lima menit lagi bel masuk berbunyi, namun belum ada tanda-tanda kedatangan Rio, bahkan meskipun Ify sudah menatap pintu gerbang sekolah tanpa berkedip. Ify menatap Sivia yang sepertinya masih santai mengunyah makanan.
“Si anak baru kemana?” Tanya Ify. Sivia tersedak. Buru-buru diambilnya air mineral di tas.
“Rio? Memangnya kamu nggak tau, Fy? Oh, ya. Aku kan tetangganya. Dia pindah sekolah. Kemarin baru aja pindah rumah.” Jawab Sivia lalu kembali sibuk dengan makanannya lagi.
Hati Ify mencelos. Dia tidak dekat dengan Rio, tapi kehilangan ‘si anak baru’ itu entah kenapa membuatnya sedih. Padahal Rio sudah janji akan bertemu kembali dengan Ify ketika hujan berhenti. Namun Ify yakin sampai tiba musim panas nanti Rio tidak akan kembali. Rio tidak akan menepati janjinya.

                Sepulang sekolah, Ify menerabas hujan menuju taman dan gazebo tempatnya menunggu Rio kemarin. Suara hati polosnya memaksanya untuk tetap menunggu Rio. Entah keyakinan dari mana, Ify yakin akan bertemu Rio kembali.
“Dek....” suara seseorang dibelakang Ify membuat lamunannya terhenti. Ternyata tukang bersih-bersih taman. Ify tersenyum lemah. Lalu melirik sebuket bunga di tangan bapak-bapak itu. Oh! Jangan-jangan penculik! Ify dalam siaga untuk berdiri dan secepat mungkin berlari jika penculik itu beraksi.
“Ini.... ada titipan dari Rio. Rio atau siapa bapak lupa.” Ucap bapak itu sambil menyodorkan buket bunga tadi. Ify menerimanya dengan mata berbinar. Seumur-umur dia tidak pernah diberi sebuket bunga oleh seseorang. Mungkin coklat, atau tahun ini orang tuanya membelikan boneka barbie dengan rumah-rumahan.
                Ify memeluknya selama perjalanan pulang. Tidak peduli hujan yang begitu derasnya mengguyur dia dan buket bunga itu. Ify merasa Rio adalah orang spesial. Yah, meskipun Ify sendiri belum mengerti, tapi Ify yakin Rio sekarang sahabatnya. Ify terus menerabas tirai hujan itu dan berharap Rio akan datang membawakan payung ketika hujan nanti.
                                                                                *****
                Ify merebahkan tubuhnya dikasur setelah mandi sore. Buket bunga itu masih setia dipandanginya. Setiap dia melihat buket bunga itu, dia ingat wajah Rio. Ify ingin menangis. Padahal sebelumnya dia tidak pernah menangisi apapun yang ada dihatinya. Dia hanya menangis saat terjatuh dari sepeda dan luka-luka. Atau saat Sivia akan pindah sekolah dulu, meskipun tidak jadi karena Ify. Ify menciumi bunga itu yang ternyata masih saja harum. Sambil meraba-raba mahkota bunga itu, Ify merasakan ada yang janggal. Salah satu bunga tampak berat. Ify membuka mahkotanya perlahan-lahan dan....
“Astaga!” Pekik Ify.
Dia menarik seutas tali. Bukan, bukan tali. Tapi sebuah kalung emas putih yang indah dengan nama Ify yang bertabur berlian sehingga ketika terkena sinar tampak menyala. Ify mengerjap. Bukan kesilauan, tapi wajah Rio yang terbayang lagi membuatnya ingin menangis. Ify berlari menuruni anak tangga ketika suara mobil ayahnya memasuki pelataran rumah.
                “Ify! Jangan berlari menuruni tangga! Sudah mama bilang berapa kali?” Mama Ify berteriak lembut sambil meletakkan kembali majalah yang sedari tadi dibacanya. Ify meringis lalu mengekor mamanya, Bu Sinta, menyapa Papanya, Pak Theo.
“Malam.” Sapa Pak Theo sambil mengecup kening Bu Sinta. Ify deg-degan sendiri. Dia ingin menunjukkan kalung pemberian dari Rio.
Kemudian Pak Theo duduk disofa, sementara Bu Sinta melepaskan dasi dan menaruh tas kerjanya di meja. Lalu ia menyodorkan secangkir coffee late. Ify tersenyum senang melihat keharmonisan orang tuanya.
“Ma, Pa. Aku.... aku punya kalung.” Lirih Ify lebih mirip bisikan. Pak Theo dan Bu Sinta menatapnya bingung lalu mereka berdua tertawa.
“Ya.... hadiah ulang tahunmu tahun lalu kan memang kalung dari Papa.” Ujar Bu Sinta sambil mengusap puncak kepala Ify. Namun Ify menggeleng. Dengan tangan gemetar ia menyodorkan kalung pemberian dari Rio. Jelas saja Bu Sinta yang hobi bercerita dengan teman pelanggan khusus –madam penggossip- di cafenya tentang perhiasan pasti hafal betul kalau itu asli.
“Ify? Darimana kamu dapatkan ini?” Tanya Bu Sinta masih terpukau dengan keindahan nama Ify yang terukir disana. Pak Theo hanya meliriknya sebentar, tampak tidak tertarik. “Asli, Ma?” Tanyanya. Bu Sinta mengangguk lalu memakaikannya pada Ify. Cantik. Sempurna.
“Mama masih ingat teman baru Ify? Ini dari Rio.” Jawab Ify. Bu Sinta dan Pak Theo menegang. Mereka saling berpandangan lalu menatap Ify menyelidik.
 “Kamu pacaran, Fy?” Cepat-cepat Ify menggeleng. Dia kan hanya ingin berteman dengan Rio, kenapa dituduh pacaran? Lagian Ify juga belum mengerti pacaran itu apa.
“Rio temanku mungkin dia ingin jadi sahabatku, Ma. Dia juga udah pindah sekolah. Nggak tau dimana. Padahal.... padahal 14 Februari yang lalu dia sudah berjanji akan datang saat hujan berhenti. Apa Ify boleh setiap sore menunggu ditaman untuk menunggu Rio, Ma? Ify ingin jadi sahabatnya Rio....”
“Ya sudah. Kamu masuk ke kamar. Tidur. Sholat dulu jangan lupa. Good night little flower.” Perintah Bu Sinta sambil mengecup puncak kepala Ify. Ify mengangguk lalu mendekati Pak Theo untuk dikecup juga. “Good night Little Flower.” Bisik Pak Theo.
“Apa yang ada dipikiranmu, Pa? Rio itu.... timingnya benar-benar pas. 14 Februari, Valentine.” Lirih Bu Sinta ketika mendengar suara pintu kamar Ify yang ditutup. Pak Theo hanya tersenyum menanggapinya.

                                                                                *****




1 komentar: