PROLOG (PART SATU)
Hujan. Jika aku mampu, jika aku bisa, aku
ingin membenci hujan. Tapi kenangan manis dibalik rasa sakit ini membuatku
bertahan. Menunggu. Menunggu saat hujan berhenti dan kau datang lagi....
14
Februari 2007
Ify masih duduk di gazebo menunggu
hujan reda. Matanya mengedar ke
sekeliling taman kompleks, menanti seseorang. Dia masih memakai seragam putih
merah dengan dasi yang masih melingkar di leher. Masih terngiang-ngiang ucapan
Rio, temannya, di sekolah tadi. Ify sendiri bingung. Rio adalah siswa baru di
SD An-Nisa, sekolah Ify. Sejak seminggu yang lalu tepatnya, Ify tahu Rio sering
memperhatikannya. Ify pikir Rio ingin berteman dengannya. Tapi ucapannya tadi
pagi....
Ify
baru saja keluar dari toilet ketika seseorang menepuk bahunya. Dahi mereka
hampir saja bertubrukkan karena Ify berbalik. Ternyata Rio, anak baru yang
–katanya- pendiam. Ify tersenyum ramah. Tinggi mereka hampir sama. Mungkin Ify
lebih tinggi 1 cm.
“Hari ini kan valentine.” Ify mengangguk heran
sambil menerima cokelat yang disodorkan Rio. Sebenarnya dia sendiri juga tidak
tau apa itu valentine. Hari nasionalkah?
“Aku tunggu kamu di taman kompleksmu, ya.
Nanti kalau hujan, kamu jangan pulang dulu. Mungkin aku akan datang saat hujan
reda nanti. Aku janji.”
Ify mengangguk sambil mengerenyit heran. Dia
sama sekali tidak mengerti, bahkan belum sempat Ify menanyakan untuk apa mereka
harus bertemu di taman kompleks pun, Rio sudah berlari meninggalkannya.
Hujan sudah hampir reda. Ify
masih menunggu gelisah. Kalau hujan reda dan Rio belum juga datang, dia akan
pulang. Atau Rio hanya ingin mengerjainya? Jahat sekali. Ify mendengus, ingin
marah tapi jatuhnya menangis. Dia juga ingin berteman dengan Rio. Tapi Ify
sendiri bingung, dulu waktu Sivia mengajaknya berteman, Sivia juga tidak
mengajak Ify ke taman untuk menjalin persahabatan.
Hujan sudah benar-benar reda, hanya saja masih
meninggalkan percikan air ditambah air mata Ify. Gadis kecil itu memilih untuk
pulang. Dia berjanji tidak akan berbicara dengan Rio kalau besok mereka ketemu
di sekolah. Ify benci Rio.
*****
Pak Gio masih sibuk membereskan
pekerjaannya. Ternyata memaksa anak semata wayangnya ini cukup sulit. Baru
sekali ini Rio, putranya, mendapatkan teman di sekolah baru sampai-sampai tidak
ingin pergi lagi. Padahal sebelumnya Rio selalu menurutinya yang selalu pindah
dari pulau ke pulau atau negara ke negara, sejak kejadian itu.
“Sebentar
saja, Pa!” Teriak Rio sambil mengeluarkan sepeda. Papanya sudah meneriaki
karena hujan yang tadi reda sudah turun kembali. Rio sendiri sampai lupa, dan
baru ingat ketika dia melihat sebuket bunga mawar untuk Ify. Rio harap gadis
itu masih ada di taman. Setidaknya Rio ingin memberikan sebuket bunga ini untuk
kenangan, karena Rio tahu. Belum tentu esok hari dia akan kembali ke Jakarta
dan bertemu Ify.
Rio sudah basah kuyup. Namun
sampai di taman, Rio tidak menemukan siapa-siapa. Dia hanya melihat seorang
bapak-bapak yang sedang menyapu salah satu gazebo. Rio menghampirinya sambil
berusaha agar bunga dalam pelukannya tidak basah. Hujan berubah menjadi
gerimis, dan reda begitu Rio sampai di dekat bapak-bapak itu.
“Permisi,
Pak. Apa tadi ada anak gadis disini? Rambutnya digerai dengan jepit warna
putih. Masih memakai seragam SD. Anaknya.... cantik. Ada?” Tanya Rio ragu.
Takut mengganggu bapak-bapak tersebut. Tapi tak urung dia juga tersenyum ketika
bapak itu menoleh dan tersenyum padanya.
“Tadi ada
seorang gadis duduk disini. Sepertinya mencari orang. Tadinya bapak mau
menghampiri, bapak kira dia kehilangan ibunya. Eh, setelah hujan reda dia
pergi. Jadi bapak pikir dia mampir ke taman untuk berteduh.” Jawab bapak itu
lalu meneruskan pekerjaannya.
“Oh....
boleh saya titip ini, Pak?” Rio menyodorkan sebuket bunga.
Bapak itu
menerimanya dengan bingung.
“Saya Rio....
kasih ini ke gadis itu, ya. Itupun kalo dia.... kesini lagi.” Suara Rio
merendah. Untuk pertama kalinya dia merasa tertarik pada seseorang, tapi justru
malah seperti ini jadinya. Ify pasti kecewa. Rio kan sudah janji setelah hujan
berhenti dia akan datang. Tapi ternyata, janji tetaplah janji, bukan pertemuan
singkat seperti yang Rio harapkan.
*****
Bekas hujan tadi malam membasahi
daun-daun depan rumah Ify. Sepertinya
musim hujan berjalan lebih lama ketimbang musim panas. Akhir-akhir ini Ify juga
sering berangkat dengan Sivia, sahabatnya sejak kecil, tidak menggunakan sepeda
lagi, melainkan diantar oleh Ayah Sivia atau Ayah Ify.
Pagi ini Ify memasang tampang
seangkuh mungkin. Dia tidak akan berbicara pada Rio selama di sekolah. Ify
yakin Rio akan menjelaskan sesuatu. Sambil bercermin, Ify tersenyum kemudian
cemberut. Ia cepat-cepat keluar kamar ketika terdengar teriakan seseorang dari
ruang tamu.
“Sebentar
Sivia!”
*****
Ify mengedarkan pandangannya.
Rio belum juga datang. Padahal jam sudah menunjukkan hampir lima menit lagi bel
masuk berbunyi, namun belum ada tanda-tanda kedatangan Rio, bahkan meskipun Ify
sudah menatap pintu gerbang sekolah tanpa berkedip. Ify menatap Sivia yang
sepertinya masih santai mengunyah makanan.
“Si anak
baru kemana?” Tanya Ify. Sivia tersedak. Buru-buru diambilnya air mineral di
tas.
“Rio?
Memangnya kamu nggak tau, Fy? Oh, ya. Aku kan tetangganya. Dia pindah sekolah.
Kemarin baru aja pindah rumah.” Jawab Sivia lalu kembali sibuk dengan makanannya
lagi.
Hati
Ify mencelos. Dia tidak dekat dengan Rio, tapi kehilangan ‘si anak baru’ itu
entah kenapa membuatnya sedih. Padahal Rio sudah janji akan bertemu kembali
dengan Ify ketika hujan berhenti. Namun Ify yakin sampai tiba musim panas nanti
Rio tidak akan kembali. Rio tidak akan menepati janjinya.
Sepulang sekolah, Ify menerabas
hujan menuju taman dan gazebo tempatnya menunggu Rio kemarin. Suara hati
polosnya memaksanya untuk tetap menunggu Rio. Entah keyakinan dari mana, Ify
yakin akan bertemu Rio kembali.
“Dek....”
suara seseorang dibelakang Ify membuat lamunannya terhenti. Ternyata tukang
bersih-bersih taman. Ify tersenyum lemah. Lalu melirik sebuket bunga di tangan
bapak-bapak itu. Oh! Jangan-jangan penculik! Ify dalam siaga untuk berdiri dan
secepat mungkin berlari jika penculik itu beraksi.
“Ini....
ada titipan dari Rio. Rio atau siapa bapak lupa.” Ucap bapak itu sambil
menyodorkan buket bunga tadi. Ify menerimanya dengan mata berbinar. Seumur-umur
dia tidak pernah diberi sebuket bunga oleh seseorang. Mungkin coklat, atau
tahun ini orang tuanya membelikan boneka barbie dengan rumah-rumahan.
Ify memeluknya selama perjalanan
pulang. Tidak peduli hujan yang begitu derasnya mengguyur dia dan buket bunga
itu. Ify merasa Rio adalah orang spesial. Yah, meskipun Ify sendiri belum
mengerti, tapi Ify yakin Rio sekarang sahabatnya. Ify terus menerabas tirai
hujan itu dan berharap Rio akan datang membawakan payung ketika hujan nanti.
*****
Ify merebahkan tubuhnya dikasur
setelah mandi sore. Buket bunga itu masih setia dipandanginya. Setiap dia
melihat buket bunga itu, dia ingat wajah Rio. Ify ingin menangis. Padahal
sebelumnya dia tidak pernah menangisi apapun yang ada dihatinya. Dia hanya
menangis saat terjatuh dari sepeda dan luka-luka. Atau saat Sivia akan pindah
sekolah dulu, meskipun tidak jadi karena Ify. Ify menciumi bunga itu yang
ternyata masih saja harum. Sambil meraba-raba mahkota bunga itu, Ify merasakan
ada yang janggal. Salah satu bunga tampak berat. Ify membuka mahkotanya
perlahan-lahan dan....
“Astaga!”
Pekik Ify.
Dia
menarik seutas tali. Bukan, bukan tali. Tapi sebuah kalung emas putih yang
indah dengan nama Ify yang bertabur berlian sehingga ketika terkena sinar
tampak menyala. Ify mengerjap. Bukan kesilauan, tapi wajah Rio yang terbayang
lagi membuatnya ingin menangis. Ify berlari menuruni anak tangga ketika suara
mobil ayahnya memasuki pelataran rumah.
“Ify! Jangan berlari menuruni
tangga! Sudah mama bilang berapa kali?” Mama Ify berteriak lembut sambil
meletakkan kembali majalah yang sedari tadi dibacanya. Ify meringis lalu
mengekor mamanya, Bu Sinta, menyapa Papanya, Pak Theo.
“Malam.”
Sapa Pak Theo sambil mengecup kening Bu Sinta. Ify deg-degan sendiri. Dia ingin
menunjukkan kalung pemberian dari Rio.
Kemudian
Pak Theo duduk disofa, sementara Bu Sinta melepaskan dasi dan menaruh tas
kerjanya di meja. Lalu ia menyodorkan secangkir coffee late. Ify tersenyum
senang melihat keharmonisan orang tuanya.
“Ma, Pa.
Aku.... aku punya kalung.” Lirih Ify lebih mirip bisikan. Pak Theo dan Bu Sinta
menatapnya bingung lalu mereka berdua tertawa.
“Ya....
hadiah ulang tahunmu tahun lalu kan memang kalung dari Papa.” Ujar Bu Sinta
sambil mengusap puncak kepala Ify. Namun Ify menggeleng. Dengan tangan gemetar
ia menyodorkan kalung pemberian dari Rio. Jelas saja Bu Sinta yang hobi
bercerita dengan teman pelanggan khusus –madam penggossip- di cafenya tentang
perhiasan pasti hafal betul kalau itu asli.
“Ify?
Darimana kamu dapatkan ini?” Tanya Bu Sinta masih terpukau dengan keindahan
nama Ify yang terukir disana. Pak Theo hanya meliriknya sebentar, tampak tidak
tertarik. “Asli, Ma?” Tanyanya. Bu Sinta mengangguk lalu memakaikannya pada
Ify. Cantik. Sempurna.
“Mama
masih ingat teman baru Ify? Ini dari Rio.” Jawab Ify. Bu Sinta dan Pak Theo
menegang. Mereka saling berpandangan lalu menatap Ify menyelidik.
“Kamu pacaran, Fy?” Cepat-cepat Ify
menggeleng. Dia kan hanya ingin berteman dengan Rio, kenapa dituduh pacaran?
Lagian Ify juga belum mengerti pacaran itu apa.
“Rio
temanku mungkin dia ingin jadi sahabatku, Ma. Dia juga udah pindah sekolah.
Nggak tau dimana. Padahal.... padahal 14 Februari yang lalu dia sudah berjanji
akan datang saat hujan berhenti. Apa Ify boleh setiap sore menunggu ditaman
untuk menunggu Rio, Ma? Ify ingin jadi sahabatnya Rio....”
“Ya sudah.
Kamu masuk ke kamar. Tidur. Sholat dulu jangan lupa. Good night little flower.” Perintah Bu Sinta sambil mengecup puncak
kepala Ify. Ify mengangguk lalu mendekati Pak Theo untuk dikecup juga. “Good night Little Flower.” Bisik Pak
Theo.
“Apa yang
ada dipikiranmu, Pa? Rio itu.... timingnya benar-benar pas. 14 Februari,
Valentine.” Lirih Bu Sinta ketika mendengar suara pintu kamar Ify yang ditutup.
Pak Theo hanya tersenyum menanggapinya.
*****
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus