PART DUA
“Ify! Ayo! Gue nggak mau rambut
gue rusak gara-gara kena hujan!” Panggil seorang gadis yang paling cantik
diantara ketiga gadis yang sedang duduk di gazebo taman.
“Shill!
Kalo mau pulang, pulang aja!” Sahut seorang gadis dengan pipi chubby.
Ify
menatap Shilla kesal, lalu menatap Sivia berterimakasih. Kedua sahabatnya ini
memang sedikit berbeda. Tapi itulah sahabat. Ify menggenggam kalungnya. Kalung
dari Rio lima tahun yang lalu. Dan sampai saat ini Ify masih menunggu Rio untuk
kembali. Terutama setiap musim hujan. Konyol memang. Tapi setelah dia masuk SMA
tahun lalu dan mengerti apa itu cinta, pacaran, dan sejenisnya, Ify sudah
memilih Rio sebagai cinta pertamanya.
“Gila lo,
Fy! Bakal ditunggu gimanapun juga nggak bakalan dateng!” Teriak Shilla sambil
berusaha melindungi rambutnya yang baru saja disalon dari air hujan yang
perlahan turun. Ify tersenyum sedih.
“Gue
berhenti, Vi.” Ucap Ify sambil beranjak berdiri.
Sivia menatapnya bingung.
“Berhenti
untuk menunggu sesuatu yang nggak akan datang. Gue sebenernya sadar Rio nggak
akan kembali. Mungkin kalo kami bertemu lagi dia akan bertanya-tanya. Siapa
sih, Ify? Atau dia sudah mendapat Ify Ify yang lain. Gue berhenti.” Tegas Ify.
Sivia tahu ini sulit bagi Ify. Sivia yang sudah berteman sejak SD tentu saja mengenal
Ify. Ify yang tidak pernah absen datang ke taman ini untuk menunggu Rio.
“Apapun
pilihan lo, lo tau, gue akan selalu ada. Kapanpun dan dimanapun.” Balas Sivia
sambil mencengkeram lembut bahu Ify.
*****
SMA Wijaya Bhakti digemparkan
oleh kedatangan siswa baru yang sudah menjadi omongan berbagai pihak baik
laki-laki maupun perempuan. Siswa yang –katanya- tampan seperti dewa Yunani
dengan gaya berjalan yang angkuh dan tanpa senyum. Shilla sudah gembar-gembor
termasuk Sivia juga. Tapi Ify tidak. Dia tidak pernah peduli pada
lingkungannya.
“Jangan-jangan
itu Rio Rio lo, Fy?” Tanya Shilla. Ify menggeleng.
“Rio itu
pendiam, tingginya Cuma segini.” Ify menunjuk pelipisnya. Iya, dulu Rio memang
hanya setinggi itu. Shilla berdecak.
“Ya, tau
aja kan dia tambah tinggi. Namanya juga cowok! Lo kira nggak ngelewatin masa
puber? Hellow.... master Biologi!” tambah Sivia. Ify menggeleng lalu meletakkan
bukunya setengah membanting.
“Rio yang
gue kenal bukan Rio yang sombong. bukan Rio yang suka tebar pesona. Apaan tuh?
Ngecengin cewek-cewek dikoridor sekolah. Gayanya doang cool, aslinya tengil!”
cibir Ify habis-habisan. Ify tidak habis pikir. Rio kan bukan Cuma satu di dunia
ini. Kenapa dua sahabatnya ini berpikir seperti itu?
“Ya
udah.... gue mau pedekatein, tau aja kecantol. Mau ikut nggak, Vi?” Tawar
Shilla sambil melirik perubahan ekspresi Ify. Bukannya kaget, Ify malah kembali
pada bukunya. Sivia menggeleng lalu ikut-ikut duduk disebelah Ify dan membuka
majalah.
“Nggak ah.
Lo sih mending jaringnya cowok seantero SMA, nah, gue.... gue kan jaringnya
koko Alvin doang.... Mana posesifnya akut lagi!” Sivia mendengus kesal. Shilla
tertawa lalu keluar dari kelas Sivia dan Ify menuju kelasnya, XI IPA 2.
Sementara kelas Sivia dan Ify XI IPA 1.
*****
Setelah sekian hari Rio berada
di sekolah Ify, Ify semakin yakin kalau dia bukan Rio teman SD nya dulu. Jelas
sekali, meskipun kedatangannya dengan seribu kedinginan, ternyata Rio sering
mangkal di koridor untuk ngecengin anak kelas X, XI maupun kelas XII, bersama
geng barunya, Cakka, Alvin, dan Gabriel. Ify jadi malas sekali untuk lewat
koridor. Makanya dia sering-sering berangkat pagi-pagi sekali.
“Ify!!!”
Seru seseorang. Dua orang tepatnya berdiri didepan Ify sambil menghadang jalan
Ify. Ify memutar bola matanya kesal.
“Fy! Lo
lewat mana sih? Kok nggak pernah lewat jalan ini lagi? Sepi.....” ujar salah
satu dari dua orang itu. Cakka. Ify berdecak mencari jalan lain, atau berbalik.
Tapi percuma saja, kalau dia berbalik bisa-bisa si Cakka nekat mengikutinya.
“Gue mau
kekelas, ada perlu. Penting. Lagian, sejak kapan sih lo sama lo berangkat jam
segini?” tanya Ify ketus. Cakka dan Gabriel, yang tadi menghadang Ify tertawa
melihat Ify memarahi mereka. Bukan karena wajahnya tapi lebih ke suaranya.
Suara Ify lembut, jadi kalau marah-marah terdengar lucu.
“Sivia
udah berangkat, Fy?” Tanya Alvin. Ify menoleh kesamping. Dia baru sadar
ternyata daritadi Alvin sedang bersandar di tembok. Mata Ify beralih kesebelah
Alvin yang juga sedang bersandar. Bedanya tatapan Alvin santai, sedangkan
laki-laki disebelah Alvin menatap Ify tajam.
“Lo
cowoknya kok nggak dijemput sih? Dasar!” Ujar Ify sambil menerobos Cakka dan
Gabriel, tidak bisa. Ify mendengus lalu melirik jam di tangannya. 06.20. ify
bersumpah besok pagi dia akan berangkat ketika bell masuk.
“Eh! Cewek
tuh cewek!” teriak Ify sambil menunjuk adik kelas yang kebetulan melewati
mereka. Si adik kelas malah tertawa cekikikan sambil berbisik-bisik. Ify melotot.
“Semua
orang kan tau, lo cewek paling imut, lembut, dan..... judes di sekolah ini, Fy.
So, mau nggak jadi pacar gue?” Tanya Gabriel yang langsung mendapat toyoran
dari Cakka. Ify tersenyum melihat Gabriel dan Cakka sibuk toyor-toyoran. Lalu
menerobos sambil setengah berlari. Sementara Cakka dan Gabriel sibuk
toyor-toyoran, Rio masih menatap Ify tajam.
“Lo berdua
naksir do’i?” Tanya Rio sambil melerai Cakka dan Gabriel. Akhirnya mereka
berhenti. Sementara Alvin sudah berlari mengikuti Ify, menemui Sivia. Cakka dan
Gabriel hanya garuk-garuk kepala.
“Enggak
sih. Cuma kalo dia minat, ya ditampung dong!” Sahut Gabriel. Setelah
toyor-toyoran akhirnya mereka berhigh five ria.
“Bukan
Cuma itu, Yo. Dari sekian banyak cewek yang kita godain rata-rata pada
senyum-senyum gitu. Yah, you knowlah, cewek gampangan. Nah, kalo yang ini beda.
Kabarnya sih belum pernah pacaran dari SMP. Terakhir Gabriel nekat nganterin
dia sampe kelas aja dapet alas sepatu dipipi! Kalo gue sih nggak berani. Orang
terakhir gue nekat duduk disebelah do’i. Dapet apa coba? Buku paket tiga sekaligus
ditimpuk-timpukin ke gue, Yo! Ganas banget kan? Nah, yang kaya gitu bro, baru
tantangan.” Tambah Cakka sambil menepuk-nepuk Gabriel yang manyun.
“Dan Ify nggak pernah mau
deket-deket sama cowok! Gue yakin besok dia berangkat siangan. Kan emang
begitu, kalo nggak ya... Paling dia terpaksa lewat jalan depan kantor guru.
Abis itu, disuruh absen semua kelas deh. Perjuangan banget, kan?”
Rio mengangguk-angguk. “Kelas
apa?”
“XI IPA 1.
Anak pinter sih. Masternya biologi.” Jawab Cakka. Rio tersenyum misterius.
*****
Ify membanting tasnya. Sivia
mengerenyit heran. Seumur dia kenal Ify, Ify tidak pernah marah kecuali....
“Cakka
sama Gabriel itu! nyebelin!” maki Ify tepat dengan tebakan Sivia. Biasanya
kalau sudah seperti itu tiba-tiba Cakka dan Gabriel datang dan langsung
mendapat alas sepatu Ify. Ify duduk, napasnya masih memburu. “Tadi pertama
kalinya gue face to face sama Rio.” Lanjut Ify.
Sebelum Sivia menanggapi, Ify
sudah mencak-mencak lagi.
“Itu yang lo
sebut Rio yang dulu? Nggak! Rio nggak mungkin kaya gitu ke gue! Udah ngeliatin
gue kaya musuh bebuyutan gitu.... ih!” Ify berbalik ketika Sivia mengedik pada
orang dibelakang Ify. Alvin. Astaga! Dia kan sohibnya Rio juga!
“Vin, gue
nggak bermaksud.....” ucap Ify tulus. Alvin mengangguk sambil tersenyum. Lalu
memberi kode untuk Sivia. “Heh? Bentar lagi masuk loh!” teriak Ify. Namun
sepertinya Sivia dan Alvin tidak memperdulikannya. Justru Shilla yang tiba-tiba
datang dengan napas terengah-engah duduk disebelah Ify. Wajahnya tak luput dari
senyuman.
“Kenapa
lo? Kesambet?”
“Gue....
gue abis nembak Rio tadi pagi! Dikoridor sana!” lirih Shilla sambil menunjuk
arah yang tidak jelas. Ify terbelalak. Shilla? Nembak cowok? Kepala Ify terasa
pening. Sepertinya dunia ini sudah berbalik. Dimana gadis-gadis cantik justru
mendapat pasangan dengan cara menembaknya sendiri.
“Diterima!
Dan sekarang gue resmi jadi pacarnya Rio. Lo jangan nyesel ya, Fy.... Mario
Stevano Aditya Haling dan Ashilla Zahrantiara... Haling!” Shilla loncat-loncat
keluar dari kelas Ify. Jantung Ify bekerja lebih cepat. Mario Stevano Aditya
Haling? Apa dia Rionya yang dulu? Rio Stevano Aditya.
“Ah! Cuma
sama dikit!” Ify menepis pikiran –yang menurutnya- tidak masuk akal. Dia
mencoba menyibukkan diri dengan buku-buku dimejanya sampai Sivia datang dan
menepuk bahunya. Ralat, mengguncang bahunya.
“Apaan
sih? Lo kaya jelangkung tau!” cibir Ify sambil kembali fokus pada bukunya. Sivia
hanya mengedikkan bahunya lalu duduk di sebelah Ify.
*****
Jam istirahat sudah berdering 5
menit yang lalu. Ify dan Shilla sedang menunggu makanan yang Sivia pesankan.
Sedari tadi Ify memperhatikan Shilla yang selalu sibuk dengan BlackBerry nya.
Ify paling tidak suka dicuekin. Dia ingin menegur Shilla, namun sebelum buka
mulut, Shilla sudah melambaikan tangan pada seseorang. Orang itu berjalan ke
arah Shilla dan Ify dengan senyum misterius. Oh.... Shilla kan sudah resmi
menjadi pacar Rio, orang itu.
“Udah
lama?” Tanya Rio sambil menarik kursi dan duduk di sebelah Shilla, dihadapan
Ify tepatnya. Shilla menggeleng. Beberapa menit berikutnya sudah datang
Gabriel, Cakka, dan Alvin yang membuat Ify memutar bola mata kesal. Dia tidak
akan menyukai laki-laki lain kecuali Rionya.
Sivia membawa pesanan mereka
ketika Cakka juga hendak memesan makanan. Ify menarik siomay dan jus apelnya
dengan kesal. Entah ada berapa lipatan diwajahnya. Mulai dari pagi tadi dan
sampai siang ini. Dan Ify yakin selama Shilla masih pacaran dengan Mario
Stevano, pasti Ify akan selalu satu meja dengan Cakka dan Gabriel, fans
fanatiknya.
“Woles,
Fy. Nggak ada yang ngerebut kok.” Sivia terkikik melihat Ify mencabik-cabik
siomaynya sambil menyuapkan bulat-bulat. Baru saja Ify santai dengan
makanannya, Cakka sudah duduk disebelahnya sambil membawa semangkuk bakso.
“Fy, kok makannya cuman siomay
doang? Nggak laper apa? Ntar pelajaran abis ini sakit perut loh.” Ujar Gabriel.
Yang lain terkikik membuat Ify semakin brutal melahap makanannya.
“Jarang-jarang
ada cewek yang nggak jaim kaya lo, Fy.” Seloroh Cakka, lebih ke pujian. Ify
meminum jus apelnya sampai tandas. Diliriknya Sivia dan Shilla yang masih saja
tertawa diam-diam. Ify melotot meskipun dua sahabatnya itu tidak peduli.
“Udahlah,
Cak, Gab, nggak usah nungguin Ify! Dia udah mentok sama Rio!” ujar Sivia
setelah meneguk jus jeruknya. Ify menggeram kesal. Cakka dan Gabriel, serta
Alvin melongo. Mereka langsung menatap Rio dan Ify bergantian.
“Bukan.
Bukan Rio ini. Namanya Rio Stevano Aditya kalo nggak salah, ya, Fy? Yah, hampir
mirip sih sama Mario Stevano Aditya Haling, tapi kenyataan mengecewakan.”
Sekarang gantian Shilla yang menggeram gara-gara penjelasan Sivia. Penjelasan
seolah-olah Sivia berharap Mario pacarnya adalah Rionya Ify. Lagipula Ify
bilang Rio pendiam.
“The
Prince of Rain!” Sivia menyebut sebutan untuk Rio dari Ify –yang sebenarnya
sebutan Sivia sendiri-. Ify tidak pernah suka sebutan itu. The Prince of Rain?
Norak! Lagipula, Ify sudah berhenti berharap dan tidak menunggu di taman lagi.
Yah, mungkin seminggu sekali.
“Oh, gue
kira Rio sohib gue.....” Cakka menarik napas lega.
“Emang
seromantis apa sih yang namanya Rio Stevano Aditya itu? nggak lebih romantis
dari gue kan?” Gabriel menaik turunkan alisnya. Jujur saja, laki-laki ini
memang tampan. Yah, you knowlah. Rio, Cakka, Gabriel, dan Alvin kan para cowok
yang senantiasa tidak menjaga image dan pastinya low profile! ify cukup kagum
pada mereka, tapi tingkahnya itu loooh....
“Nih! Ify
pernah dikasih ini! Keren kan?” Sivia menarik-narik kalung Ify.
Ify diam saja takut kalau dia menarik balik
kalungnya jadi rusak. Sedari tadi dia memperhatikan Rio. Laki-laki didepannya
ini memang mirip dengan Rionya, tapi sifatnya tentu saja berbeda jauh. Rio yang
didepannya memandangnya aneh. Tidak seperti Rio teman SD nya yang terakhir kali
memandangnya lembut. Ify memalingkan wajah ketika Shilla menatapnya seolah
mengatakan tuh-kan-lo-penasaran-juga sambil tersenyum bangga.
“Kelas dulu, ya.” Pamit Ify
tanpa memperdulikan Sivia dan Gabriel yang meneriakinya.
Ify berjalan sedikit buru-buru
mengingat betapa kesalnya dia pada Sivia yang dengan terang-terangan didepan
mukanya membuka masa lalunya pada orang lain. Apalagi orang lain itu adalah....
BRUK! Ify merasakan kepalanya berkunang-kunang sampai kesadarannya pulih.
Ditatapnya orang yang ditabraknya tadi.
“Sorry,
Deb! Gue buru-buru tadi.” Ify berjongkok membantu orang itu membereskan
buku-bukunya. “Buat apa nih?” Tanya Ify sekedar mengalihkan pembicaraan. Debo,
laki-laki itu, hanya mengedikkan bahu. “Biasalah, Bu Winda.”
“Gue
bantuin, ya.” Ify menyambut buku-buku yang Debo berikan padanya. Mereka
berjalan beriringan sampai kekelas XI IPA 3.
*****
Rio melempar kaleng coca cola
yang baru saja tandas ditenggaknya. Rio, Alvin, Gabriel, dan Cakka sedang duduk
di pinggir lapangan basket. Mereka baru saja bermain untuk sekedar melepas
penat.
“Gimana
sama Shilla, Yo?” Tanya Gabriel sambil menyeka peluhnya. Rio mengedikkan bahu.
“Biasa aja sih. Kenapa?” Tanya Rio balik. Gabriel terkekeh. “Do’i kan jaringnya
cowok-cowok.”
“Kenapa lo
nggak ke jaring? Jangan-jangan lo.....” ucapan Rio menggantung dan sukses
membuatnya mendapat toyoran dari Gabriel. Gabriel menghela napas kentara.
Matanya menyipit menantang matahari. Mereka hanya berdua. Alvin masih sibuk
memasukkan bola ke ring lagi. Sementara Cakka kabur entah kemana. Biasanya dia
nongkrong dipinggir lapangan. Cuci mata. Jam-jam segini anak SMP Wijaya Bhakti
baru saja pulang sekolah, khususnya kelas sembilan.
“Gue serius naksir sama Ify.”
Lirih Gabriel. Rio meliriknya sekilas lalu memalingkan wajah ke Alvin. “Yah,
gue bukan Cakka yang cuman ngeledek doang. Tapi gue serius, Yo.” Lanjut
Gabriel. Rio menatapnya lagi. “Lo perjuangin deh, gue nggak bisa bantu
apa-apa.” Tanggap Rio, lalu dirinya beranjak ke Alvin dan ikut dalam permainan lagi.
“Darimana
aja lo?” Tanya Gabriel ketika Cakka menepuk bahunya. Cakka mengedik pada
gerombolan anak-anak SMP dengan sepedanya.
“Jaman
sekarang cewek emang nggak bisa dirayu..... satnite diajak jalan, alesannya mau
belajar kelompok. Dianterin pulang alesannya udah bawa sepeda. Huffttt.” Cakka
berselonjor. Gabriel menepuk-nepuk punggungnya.
“Gue tau
Oik naksir lo kok.” Hibur Gabriel. FYI, yang sebenarnya benar-benar menyayangi
Ify adalah Gabriel. Kalau Cakka mungkin hanya sekedar suka meledek. “Lagian lo
aneh-aneh sih, naksir sama anak SMP. SMP Wijaya Bhakti lagi!” cibir Gabriel.
Cakka melengos.
“Ya.....
gue juga anak Wijaya Bhakti kok! Gue naksir do’i itu pas jamannya MOS. Gue kan
anak OSIS, jadi ngeMOS juga. Nah, do’i kan anak kelas tujuh yang kebetulan
telat gitu. Pas itu juga gue yang ngehukum dia. Jadi agak gimana gitu ya buat
move on” Jelas Cakka dengan wajah polosnya. Gabriel menoyornya entah untuk
keberapa kalinya.
“Gue juga
tau! Kita kan satu SMP dodol!” sewot Gabriel dengan alasan Cakka yang itu-itu
saja. Bahkan sampai Gabriel hafal diluar kepala.
“Eh,
tapi.... gue denger-denger si Agni deket sama Oik?” Tanya Gabriel. Cakka
melengos malas.
“Terus?
Dia mau gitu nyomblangin gue sama Oik? Dia kan adek yang durhaka!”
“By the
way, ngomongin apa lo sama Rio?” Tanya Cakka mengalihkan pembicaraan. Gabriel
menggaruk tengkuknya sambil membayangkan wajah Ify. Entah kenapa kalau
berhadapan dengan Ify langsung dia bisa melepas imagenya, tapi kalau
membayangkan wajah Ify yang sedang judes pun dia merasa malu.
“Ify, ya?”
tebak Cakka. Gabriel mengangguk pura-pura tidak peduli.
“Ya gue
harap lo bisa nyaingin Rionya Ify itu.” Cakka menepuk bahu Gabriel setengah
mengguncang. Gabriel tersenyum tipis.
*****
Ify memilih-milih buku yang
ingin dia borong kali ini. Dia bisa menghabiskan lebih dari 10 novel semalam
full untuk melepas kekesalannya. Ify berjalan setengah melamun sambil mengingat
ucapan Debo tadi di perpustakaan. Debo bilang dia menyukai Ify. Ify tersenyum
membayangkan betapa polosnya laki-laki itu tanpa meminta Ify untuk menjadi
pacarnya.
“Gue juga suka buku itu.” suara
seseorang membuat Ify menghentikan lamunannya dan menoleh kebelakang. Rio? Ify
mencari-cari sosok Shilla, bisa dipastikan laki-laki itu datang sendiri. Jujur
saja, mata laki-laki itu sama persis dengan milik Rio teman SD nya dulu. Ah,
bayangan masa lalu.
“Lo suka
ke bookstore juga? Gue kira cuman bisa godain adek kelas yang kebetulan lewat.”
Balas Ify memfokuskan pandangannya pada rak buku. Dia bisa melihat dari sudut
matanya, Rio sedang menatapnya. Tentu saja dengan tatapan aneh. Ify menoleh
dengan cepat. “Shilla mana?” Tanya Ify. Rio menggeleng. “Emang harus selalu
bareng, ya?”
“Ya kan lo
pacarnya.” Ify berbalik menuju kasir. Jelas dia tahu Rio mengikutinya. Bahkan
sampai keluar dari bookstore. Ify mempercepat langkah menapaki trotoar tanpa
arah. Pikirannya kosong gara-gara Rio mengikuti kemanapun dia berjalan. Sayang
sekali tak ada taksi yang muncul didepan mata.
“Lo mau
jalan-jalan?” Tanya Ify dengan nada seolah dia tidak ingin diikuti.
“Kebetulan
rumah gue deket. Dikompleks sana.” Jawab Rio. Ify menghela napas sambil menepuk
dahinya. Kenapa bisa-bisanya dia ge-er kalau Rio mengikutinya. Jelas-jelas dia
ingin menuju rumahnya yang berada di kompleks depan. Ify menoleh ke arah yang
ditunjuk Rio, kompleks Sivia? Dan yang Ify tahu Sivia adalah tetangga Rio teman
SD nya. Astaga!, pekik Ify dalam hati.
“Ru....
rumah lo, deket rumahnya Sivia nggak?” Tanya Ify dengan suara yang tercekat.
Rio tersenyum lalu dengan santai dia menjawab, “Gue sih nggak pernah keluar
rumah kecuali sekolah. Jadi mungkin, Sivia lupa kalo gue udah balik.” Senyumnya
yang misterius membuat Ify mematung. Lupa? Balik? Tetangga? Sivia? Rio? Ify
mengerang. Dia ingin memastikan apakah Mario adalah Rionya yang dulu.
“Lo.... Lo
Rio yang—“
“Ify!!!
Ify !!!” teriak seseorang dari seberang jalan. Ify belum selesai mengeluarkan
hipotesanya, namun mendengar seseorang memanggil, dia menoleh. Debo. Senyum ify
mengembang seketika. Dengan gerakan cepat dia melangkah menyeberang. Namun
tiba-tiba saja tarikan dari belakang membuatnya mundur dan jatuh kepelukan
orang yang menariknya. Ify menoleh. Dia ingat betul mata itu. mata yang selama
ini dirindukannya.
“Sorry.
Tadi ada mobil lewat, gue takut lo kenapa-napa.” Ucap Rio. Ify mengangguk
kikuk.
“Lo Rio
yang—“ ucapan Ify terpotong lagi.
“Kalo lo
suka sama cowok itu,” Rio menunjuk Debo yang sedang menatap mereka bingung. “Lo
pikir dua kali kenapa selama lima tahun ini lo nunggu masa lalu lo.” Lanjutnya
lalu melangkah meninggalkan Ify. Ify mengerjap.
“Oh, ya.
Jangan pernah melupakan orang yang mengenalkanmu pada hari kasih sayang. Tapi lo
ngelupain dia hanya karena laki-laki itu. padahal dia udah janji untuk datang
saat hujan reda. Itu janjinya, kan?” tambah Rio. Lalu dengan setengah berlari
dia meninggalkan Ify yang masih terpaku di trotoar tanpa memperdulikan Debo
yang meneriakinya. Hatinya bergetar. Rio telah kembali. Musim hujan ini
membuatnya kembali. Dia menepati janjinya. Dan ketika Rio sudah tidak terlihat,
hujan turun menyadarkan Ify bahwa tadi itu nyata, bukan rekayasa khayalannya.
*****