Honest, appreciate, and love in peace

Senin, 16 September 2013

After Waiting The Rain 2 [Fan Fiction]


PART DUA
                “Ify! Ayo! Gue nggak mau rambut gue rusak gara-gara kena hujan!” Panggil seorang gadis yang paling cantik diantara ketiga gadis yang sedang duduk di gazebo taman.
“Shill! Kalo mau pulang, pulang aja!” Sahut seorang gadis dengan pipi chubby.
Ify menatap Shilla kesal, lalu menatap Sivia berterimakasih. Kedua sahabatnya ini memang sedikit berbeda. Tapi itulah sahabat. Ify menggenggam kalungnya. Kalung dari Rio lima tahun yang lalu. Dan sampai saat ini Ify masih menunggu Rio untuk kembali. Terutama setiap musim hujan. Konyol memang. Tapi setelah dia masuk SMA tahun lalu dan mengerti apa itu cinta, pacaran, dan sejenisnya, Ify sudah memilih Rio sebagai cinta pertamanya.
“Gila lo, Fy! Bakal ditunggu gimanapun juga nggak bakalan dateng!” Teriak Shilla sambil berusaha melindungi rambutnya yang baru saja disalon dari air hujan yang perlahan turun. Ify tersenyum sedih.
“Gue berhenti, Vi.” Ucap Ify sambil beranjak berdiri.
 Sivia menatapnya bingung.
“Berhenti untuk menunggu sesuatu yang nggak akan datang. Gue sebenernya sadar Rio nggak akan kembali. Mungkin kalo kami bertemu lagi dia akan bertanya-tanya. Siapa sih, Ify? Atau dia sudah mendapat Ify Ify yang lain. Gue berhenti.” Tegas Ify. Sivia tahu ini sulit bagi Ify. Sivia yang sudah berteman sejak SD tentu saja mengenal Ify. Ify yang tidak pernah absen datang ke taman ini untuk menunggu Rio.
“Apapun pilihan lo, lo tau, gue akan selalu ada. Kapanpun dan dimanapun.” Balas Sivia sambil mencengkeram lembut bahu Ify.

                                                                                *****

                SMA Wijaya Bhakti digemparkan oleh kedatangan siswa baru yang sudah menjadi omongan berbagai pihak baik laki-laki maupun perempuan. Siswa yang –katanya- tampan seperti dewa Yunani dengan gaya berjalan yang angkuh dan tanpa senyum. Shilla sudah gembar-gembor termasuk Sivia juga. Tapi Ify tidak. Dia tidak pernah peduli pada lingkungannya.
“Jangan-jangan itu Rio Rio lo, Fy?” Tanya Shilla. Ify menggeleng.
“Rio itu pendiam, tingginya Cuma segini.” Ify menunjuk pelipisnya. Iya, dulu Rio memang hanya setinggi itu. Shilla berdecak.
“Ya, tau aja kan dia tambah tinggi. Namanya juga cowok! Lo kira nggak ngelewatin masa puber? Hellow.... master Biologi!” tambah Sivia. Ify menggeleng lalu meletakkan bukunya setengah membanting.
“Rio yang gue kenal bukan Rio yang sombong. bukan Rio yang suka tebar pesona. Apaan tuh? Ngecengin cewek-cewek dikoridor sekolah. Gayanya doang cool, aslinya tengil!” cibir Ify habis-habisan. Ify tidak habis pikir. Rio kan bukan Cuma satu di dunia ini. Kenapa dua sahabatnya ini berpikir seperti itu?
“Ya udah.... gue mau pedekatein, tau aja kecantol. Mau ikut nggak, Vi?” Tawar Shilla sambil melirik perubahan ekspresi Ify. Bukannya kaget, Ify malah kembali pada bukunya. Sivia menggeleng lalu ikut-ikut duduk disebelah Ify dan membuka majalah.
“Nggak ah. Lo sih mending jaringnya cowok seantero SMA, nah, gue.... gue kan jaringnya koko Alvin doang.... Mana posesifnya akut lagi!” Sivia mendengus kesal. Shilla tertawa lalu keluar dari kelas Sivia dan Ify menuju kelasnya, XI IPA 2. Sementara kelas Sivia dan Ify XI IPA 1.

                                                                                ***** 

                Setelah sekian hari Rio berada di sekolah Ify, Ify semakin yakin kalau dia bukan Rio teman SD nya dulu. Jelas sekali, meskipun kedatangannya dengan seribu kedinginan, ternyata Rio sering mangkal di koridor untuk ngecengin anak kelas X, XI maupun kelas XII, bersama geng barunya, Cakka, Alvin, dan Gabriel. Ify jadi malas sekali untuk lewat koridor. Makanya dia sering-sering berangkat pagi-pagi sekali.
“Ify!!!” Seru seseorang. Dua orang tepatnya berdiri didepan Ify sambil menghadang jalan Ify. Ify memutar bola matanya kesal.
“Fy! Lo lewat mana sih? Kok nggak pernah lewat jalan ini lagi? Sepi.....” ujar salah satu dari dua orang itu. Cakka. Ify berdecak mencari jalan lain, atau berbalik. Tapi percuma saja, kalau dia berbalik bisa-bisa si Cakka nekat mengikutinya.
“Gue mau kekelas, ada perlu. Penting. Lagian, sejak kapan sih lo sama lo berangkat jam segini?” tanya Ify ketus. Cakka dan Gabriel, yang tadi menghadang Ify tertawa melihat Ify memarahi mereka. Bukan karena wajahnya tapi lebih ke suaranya. Suara Ify lembut, jadi kalau marah-marah terdengar lucu.
“Sivia udah berangkat, Fy?” Tanya Alvin. Ify menoleh kesamping. Dia baru sadar ternyata daritadi Alvin sedang bersandar di tembok. Mata Ify beralih kesebelah Alvin yang juga sedang bersandar. Bedanya tatapan Alvin santai, sedangkan laki-laki disebelah Alvin menatap Ify tajam.
“Lo cowoknya kok nggak dijemput sih? Dasar!” Ujar Ify sambil menerobos Cakka dan Gabriel, tidak bisa. Ify mendengus lalu melirik jam di tangannya. 06.20. ify bersumpah besok pagi dia akan berangkat ketika bell masuk.
“Eh! Cewek tuh cewek!” teriak Ify sambil menunjuk adik kelas yang kebetulan melewati mereka. Si adik kelas malah tertawa cekikikan sambil berbisik-bisik. Ify melotot.
“Semua orang kan tau, lo cewek paling imut, lembut, dan..... judes di sekolah ini, Fy. So, mau nggak jadi pacar gue?” Tanya Gabriel yang langsung mendapat toyoran dari Cakka. Ify tersenyum melihat Gabriel dan Cakka sibuk toyor-toyoran. Lalu menerobos sambil setengah berlari. Sementara Cakka dan Gabriel sibuk toyor-toyoran, Rio masih menatap Ify tajam.
“Lo berdua naksir do’i?” Tanya Rio sambil melerai Cakka dan Gabriel. Akhirnya mereka berhenti. Sementara Alvin sudah berlari mengikuti Ify, menemui Sivia. Cakka dan Gabriel hanya garuk-garuk kepala.
“Enggak sih. Cuma kalo dia minat, ya ditampung dong!” Sahut Gabriel. Setelah toyor-toyoran akhirnya mereka berhigh five ria.
“Bukan Cuma itu, Yo. Dari sekian banyak cewek yang kita godain rata-rata pada senyum-senyum gitu. Yah, you knowlah, cewek gampangan. Nah, kalo yang ini beda. Kabarnya sih belum pernah pacaran dari SMP. Terakhir Gabriel nekat nganterin dia sampe kelas aja dapet alas sepatu dipipi! Kalo gue sih nggak berani. Orang terakhir gue nekat duduk disebelah do’i. Dapet apa coba? Buku paket tiga sekaligus ditimpuk-timpukin ke gue, Yo! Ganas banget kan? Nah, yang kaya gitu bro, baru tantangan.” Tambah Cakka sambil menepuk-nepuk Gabriel yang manyun.
                “Dan Ify nggak pernah mau deket-deket sama cowok! Gue yakin besok dia berangkat siangan. Kan emang begitu, kalo nggak ya... Paling dia terpaksa lewat jalan depan kantor guru. Abis itu, disuruh absen semua kelas deh. Perjuangan banget, kan?”
                Rio mengangguk-angguk. “Kelas apa?”
“XI IPA 1. Anak pinter sih. Masternya biologi.” Jawab Cakka. Rio tersenyum misterius.

                                                                                *****

                Ify membanting tasnya. Sivia mengerenyit heran. Seumur dia kenal Ify, Ify tidak pernah marah kecuali....
“Cakka sama Gabriel itu! nyebelin!” maki Ify tepat dengan tebakan Sivia. Biasanya kalau sudah seperti itu tiba-tiba Cakka dan Gabriel datang dan langsung mendapat alas sepatu Ify. Ify duduk, napasnya masih memburu. “Tadi pertama kalinya gue face to face sama Rio.” Lanjut Ify.
                Sebelum Sivia menanggapi, Ify sudah mencak-mencak lagi.
“Itu yang lo sebut Rio yang dulu? Nggak! Rio nggak mungkin kaya gitu ke gue! Udah ngeliatin gue kaya musuh bebuyutan gitu.... ih!” Ify berbalik ketika Sivia mengedik pada orang dibelakang Ify. Alvin. Astaga! Dia kan sohibnya Rio juga!
“Vin, gue nggak bermaksud.....” ucap Ify tulus. Alvin mengangguk sambil tersenyum. Lalu memberi kode untuk Sivia. “Heh? Bentar lagi masuk loh!” teriak Ify. Namun sepertinya Sivia dan Alvin tidak memperdulikannya. Justru Shilla yang tiba-tiba datang dengan napas terengah-engah duduk disebelah Ify. Wajahnya tak luput dari senyuman.
“Kenapa lo? Kesambet?”
“Gue.... gue abis nembak Rio tadi pagi! Dikoridor sana!” lirih Shilla sambil menunjuk arah yang tidak jelas. Ify terbelalak. Shilla? Nembak cowok? Kepala Ify terasa pening. Sepertinya dunia ini sudah berbalik. Dimana gadis-gadis cantik justru mendapat pasangan dengan cara menembaknya sendiri.
“Diterima! Dan sekarang gue resmi jadi pacarnya Rio. Lo jangan nyesel ya, Fy.... Mario Stevano Aditya Haling dan Ashilla Zahrantiara... Haling!” Shilla loncat-loncat keluar dari kelas Ify. Jantung Ify bekerja lebih cepat. Mario Stevano Aditya Haling? Apa dia Rionya yang dulu? Rio Stevano Aditya.
“Ah! Cuma sama dikit!” Ify menepis pikiran –yang menurutnya- tidak masuk akal. Dia mencoba menyibukkan diri dengan buku-buku dimejanya sampai Sivia datang dan menepuk bahunya. Ralat, mengguncang bahunya.
“Apaan sih? Lo kaya jelangkung tau!” cibir Ify sambil kembali fokus pada bukunya. Sivia hanya mengedikkan bahunya lalu duduk di sebelah Ify.

                                                                                *****

                Jam istirahat sudah berdering 5 menit yang lalu. Ify dan Shilla sedang menunggu makanan yang Sivia pesankan. Sedari tadi Ify memperhatikan Shilla yang selalu sibuk dengan BlackBerry nya. Ify paling tidak suka dicuekin. Dia ingin menegur Shilla, namun sebelum buka mulut, Shilla sudah melambaikan tangan pada seseorang. Orang itu berjalan ke arah Shilla dan Ify dengan senyum misterius. Oh.... Shilla kan sudah resmi menjadi pacar Rio, orang itu.
“Udah lama?” Tanya Rio sambil menarik kursi dan duduk di sebelah Shilla, dihadapan Ify tepatnya. Shilla menggeleng. Beberapa menit berikutnya sudah datang Gabriel, Cakka, dan Alvin yang membuat Ify memutar bola mata kesal. Dia tidak akan menyukai laki-laki lain kecuali Rionya.
                Sivia membawa pesanan mereka ketika Cakka juga hendak memesan makanan. Ify menarik siomay dan jus apelnya dengan kesal. Entah ada berapa lipatan diwajahnya. Mulai dari pagi tadi dan sampai siang ini. Dan Ify yakin selama Shilla masih pacaran dengan Mario Stevano, pasti Ify akan selalu satu meja dengan Cakka dan Gabriel, fans fanatiknya.
“Woles, Fy. Nggak ada yang ngerebut kok.” Sivia terkikik melihat Ify mencabik-cabik siomaynya sambil menyuapkan bulat-bulat. Baru saja Ify santai dengan makanannya, Cakka sudah duduk disebelahnya sambil membawa semangkuk bakso.
                “Fy, kok makannya cuman siomay doang? Nggak laper apa? Ntar pelajaran abis ini sakit perut loh.” Ujar Gabriel. Yang lain terkikik membuat Ify semakin brutal melahap makanannya.
“Jarang-jarang ada cewek yang nggak jaim kaya lo, Fy.” Seloroh Cakka, lebih ke pujian. Ify meminum jus apelnya sampai tandas. Diliriknya Sivia dan Shilla yang masih saja tertawa diam-diam. Ify melotot meskipun dua sahabatnya itu tidak peduli.
“Udahlah, Cak, Gab, nggak usah nungguin Ify! Dia udah mentok sama Rio!” ujar Sivia setelah meneguk jus jeruknya. Ify menggeram kesal. Cakka dan Gabriel, serta Alvin melongo. Mereka langsung menatap Rio dan Ify bergantian.
“Bukan. Bukan Rio ini. Namanya Rio Stevano Aditya kalo nggak salah, ya, Fy? Yah, hampir mirip sih sama Mario Stevano Aditya Haling, tapi kenyataan mengecewakan.” Sekarang gantian Shilla yang menggeram gara-gara penjelasan Sivia. Penjelasan seolah-olah Sivia berharap Mario pacarnya adalah Rionya Ify. Lagipula Ify bilang Rio pendiam.
“The Prince of Rain!” Sivia menyebut sebutan untuk Rio dari Ify –yang sebenarnya sebutan Sivia sendiri-. Ify tidak pernah suka sebutan itu. The Prince of Rain? Norak! Lagipula, Ify sudah berhenti berharap dan tidak menunggu di taman lagi. Yah, mungkin seminggu sekali.
“Oh, gue kira Rio sohib gue.....” Cakka menarik napas lega.
“Emang seromantis apa sih yang namanya Rio Stevano Aditya itu? nggak lebih romantis dari gue kan?” Gabriel menaik turunkan alisnya. Jujur saja, laki-laki ini memang tampan. Yah, you knowlah. Rio, Cakka, Gabriel, dan Alvin kan para cowok yang senantiasa tidak menjaga image dan pastinya low profile! ify cukup kagum pada mereka, tapi tingkahnya itu loooh....
“Nih! Ify pernah dikasih ini! Keren kan?” Sivia menarik-narik kalung Ify.
 Ify diam saja takut kalau dia menarik balik kalungnya jadi rusak. Sedari tadi dia memperhatikan Rio. Laki-laki didepannya ini memang mirip dengan Rionya, tapi sifatnya tentu saja berbeda jauh. Rio yang didepannya memandangnya aneh. Tidak seperti Rio teman SD nya yang terakhir kali memandangnya lembut. Ify memalingkan wajah ketika Shilla menatapnya seolah mengatakan tuh-kan-lo-penasaran-juga sambil tersenyum bangga.
                “Kelas dulu, ya.” Pamit Ify tanpa memperdulikan Sivia dan Gabriel yang meneriakinya.
                Ify berjalan sedikit buru-buru mengingat betapa kesalnya dia pada Sivia yang dengan terang-terangan didepan mukanya membuka masa lalunya pada orang lain. Apalagi orang lain itu adalah.... BRUK! Ify merasakan kepalanya berkunang-kunang sampai kesadarannya pulih. Ditatapnya orang yang ditabraknya tadi.
“Sorry, Deb! Gue buru-buru tadi.” Ify berjongkok membantu orang itu membereskan buku-bukunya. “Buat apa nih?” Tanya Ify sekedar mengalihkan pembicaraan. Debo, laki-laki itu, hanya mengedikkan bahu. “Biasalah, Bu Winda.”
“Gue bantuin, ya.” Ify menyambut buku-buku yang Debo berikan padanya. Mereka berjalan beriringan sampai kekelas XI IPA 3.

                                                                                *****

                Rio melempar kaleng coca cola yang baru saja tandas ditenggaknya. Rio, Alvin, Gabriel, dan Cakka sedang duduk di pinggir lapangan basket. Mereka baru saja bermain untuk sekedar melepas penat.
“Gimana sama Shilla, Yo?” Tanya Gabriel sambil menyeka peluhnya. Rio mengedikkan bahu. “Biasa aja sih. Kenapa?” Tanya Rio balik. Gabriel terkekeh. “Do’i kan jaringnya cowok-cowok.”
“Kenapa lo nggak ke jaring? Jangan-jangan lo.....” ucapan Rio menggantung dan sukses membuatnya mendapat toyoran dari Gabriel. Gabriel menghela napas kentara. Matanya menyipit menantang matahari. Mereka hanya berdua. Alvin masih sibuk memasukkan bola ke ring lagi. Sementara Cakka kabur entah kemana. Biasanya dia nongkrong dipinggir lapangan. Cuci mata. Jam-jam segini anak SMP Wijaya Bhakti baru saja pulang sekolah, khususnya kelas sembilan.
                “Gue serius naksir sama Ify.” Lirih Gabriel. Rio meliriknya sekilas lalu memalingkan wajah ke Alvin. “Yah, gue bukan Cakka yang cuman ngeledek doang. Tapi gue serius, Yo.” Lanjut Gabriel. Rio menatapnya lagi. “Lo perjuangin deh, gue nggak bisa bantu apa-apa.” Tanggap Rio, lalu dirinya beranjak ke Alvin dan ikut dalam permainan lagi.
“Darimana aja lo?” Tanya Gabriel ketika Cakka menepuk bahunya. Cakka mengedik pada gerombolan anak-anak SMP dengan sepedanya.
“Jaman sekarang cewek emang nggak bisa dirayu..... satnite diajak jalan, alesannya mau belajar kelompok. Dianterin pulang alesannya udah bawa sepeda. Huffttt.” Cakka berselonjor. Gabriel menepuk-nepuk punggungnya.
“Gue tau Oik naksir lo kok.” Hibur Gabriel. FYI, yang sebenarnya benar-benar menyayangi Ify adalah Gabriel. Kalau Cakka mungkin hanya sekedar suka meledek. “Lagian lo aneh-aneh sih, naksir sama anak SMP. SMP Wijaya Bhakti lagi!” cibir Gabriel. Cakka melengos.
“Ya..... gue juga anak Wijaya Bhakti kok! Gue naksir do’i itu pas jamannya MOS. Gue kan anak OSIS, jadi ngeMOS juga. Nah, do’i kan anak kelas tujuh yang kebetulan telat gitu. Pas itu juga gue yang ngehukum dia. Jadi agak gimana gitu ya buat move on” Jelas Cakka dengan wajah polosnya. Gabriel menoyornya entah untuk keberapa kalinya.
“Gue juga tau! Kita kan satu SMP dodol!” sewot Gabriel dengan alasan Cakka yang itu-itu saja. Bahkan sampai Gabriel hafal diluar kepala.
“Eh, tapi.... gue denger-denger si Agni deket sama Oik?” Tanya Gabriel. Cakka melengos malas.
“Terus? Dia mau gitu nyomblangin gue sama Oik? Dia kan adek yang durhaka!”
“By the way, ngomongin apa lo sama Rio?” Tanya Cakka mengalihkan pembicaraan. Gabriel menggaruk tengkuknya sambil membayangkan wajah Ify. Entah kenapa kalau berhadapan dengan Ify langsung dia bisa melepas imagenya, tapi kalau membayangkan wajah Ify yang sedang judes pun dia merasa malu.
“Ify, ya?” tebak Cakka. Gabriel mengangguk pura-pura tidak peduli.
“Ya gue harap lo bisa nyaingin Rionya Ify itu.” Cakka menepuk bahu Gabriel setengah mengguncang. Gabriel tersenyum tipis.

                                                                                *****

                Ify memilih-milih buku yang ingin dia borong kali ini. Dia bisa menghabiskan lebih dari 10 novel semalam full untuk melepas kekesalannya. Ify berjalan setengah melamun sambil mengingat ucapan Debo tadi di perpustakaan. Debo bilang dia menyukai Ify. Ify tersenyum membayangkan betapa polosnya laki-laki itu tanpa meminta Ify untuk menjadi pacarnya.
                “Gue juga suka buku itu.” suara seseorang membuat Ify menghentikan lamunannya dan menoleh kebelakang. Rio? Ify mencari-cari sosok Shilla, bisa dipastikan laki-laki itu datang sendiri. Jujur saja, mata laki-laki itu sama persis dengan milik Rio teman SD nya dulu. Ah, bayangan masa lalu.
“Lo suka ke bookstore juga? Gue kira cuman bisa godain adek kelas yang kebetulan lewat.” Balas Ify memfokuskan pandangannya pada rak buku. Dia bisa melihat dari sudut matanya, Rio sedang menatapnya. Tentu saja dengan tatapan aneh. Ify menoleh dengan cepat. “Shilla mana?” Tanya Ify. Rio menggeleng. “Emang harus selalu bareng, ya?”
“Ya kan lo pacarnya.” Ify berbalik menuju kasir. Jelas dia tahu Rio mengikutinya. Bahkan sampai keluar dari bookstore. Ify mempercepat langkah menapaki trotoar tanpa arah. Pikirannya kosong gara-gara Rio mengikuti kemanapun dia berjalan. Sayang sekali tak ada taksi yang muncul didepan mata.
“Lo mau jalan-jalan?” Tanya Ify dengan nada seolah dia tidak ingin diikuti.
“Kebetulan rumah gue deket. Dikompleks sana.” Jawab Rio. Ify menghela napas sambil menepuk dahinya. Kenapa bisa-bisanya dia ge-er kalau Rio mengikutinya. Jelas-jelas dia ingin menuju rumahnya yang berada di kompleks depan. Ify menoleh ke arah yang ditunjuk Rio, kompleks Sivia? Dan yang Ify tahu Sivia adalah tetangga Rio teman SD nya. Astaga!, pekik Ify dalam hati.
“Ru.... rumah lo, deket rumahnya Sivia nggak?” Tanya Ify dengan suara yang tercekat. Rio tersenyum lalu dengan santai dia menjawab, “Gue sih nggak pernah keluar rumah kecuali sekolah. Jadi mungkin, Sivia lupa kalo gue udah balik.” Senyumnya yang misterius membuat Ify mematung. Lupa? Balik? Tetangga? Sivia? Rio? Ify mengerang. Dia ingin memastikan apakah Mario adalah Rionya yang dulu.
“Lo.... Lo Rio yang—“
“Ify!!! Ify !!!” teriak seseorang dari seberang jalan. Ify belum selesai mengeluarkan hipotesanya, namun mendengar seseorang memanggil, dia menoleh. Debo. Senyum ify mengembang seketika. Dengan gerakan cepat dia melangkah menyeberang. Namun tiba-tiba saja tarikan dari belakang membuatnya mundur dan jatuh kepelukan orang yang menariknya. Ify menoleh. Dia ingat betul mata itu. mata yang selama ini dirindukannya.
“Sorry. Tadi ada mobil lewat, gue takut lo kenapa-napa.” Ucap Rio. Ify mengangguk kikuk.
“Lo Rio yang—“ ucapan Ify terpotong lagi.
“Kalo lo suka sama cowok itu,” Rio menunjuk Debo yang sedang menatap mereka bingung. “Lo pikir dua kali kenapa selama lima tahun ini lo nunggu masa lalu lo.” Lanjutnya lalu melangkah meninggalkan Ify. Ify mengerjap.
“Oh, ya. Jangan pernah melupakan orang yang mengenalkanmu pada hari kasih sayang. Tapi lo ngelupain dia hanya karena laki-laki itu. padahal dia udah janji untuk datang saat hujan reda. Itu janjinya, kan?” tambah Rio. Lalu dengan setengah berlari dia meninggalkan Ify yang masih terpaku di trotoar tanpa memperdulikan Debo yang meneriakinya. Hatinya bergetar. Rio telah kembali. Musim hujan ini membuatnya kembali. Dia menepati janjinya. Dan ketika Rio sudah tidak terlihat, hujan turun menyadarkan Ify bahwa tadi itu nyata, bukan rekayasa khayalannya.

                                                                                *****

Kamis, 12 September 2013

After Waiting The Rain 1 [Fan Fiction]


PROLOG (PART SATU)
Hujan. Jika aku mampu, jika aku bisa, aku ingin membenci hujan. Tapi kenangan manis dibalik rasa sakit ini membuatku bertahan. Menunggu. Menunggu saat hujan berhenti dan kau datang lagi....

14 Februari 2007
                Ify masih duduk di gazebo menunggu hujan reda. Matanya mengedar  ke sekeliling taman kompleks, menanti seseorang. Dia masih memakai seragam putih merah dengan dasi yang masih melingkar di leher. Masih terngiang-ngiang ucapan Rio, temannya, di sekolah tadi. Ify sendiri bingung. Rio adalah siswa baru di SD An-Nisa, sekolah Ify. Sejak seminggu yang lalu tepatnya, Ify tahu Rio sering memperhatikannya. Ify pikir Rio ingin berteman dengannya. Tapi ucapannya tadi pagi....
                Ify baru saja keluar dari toilet ketika seseorang menepuk bahunya. Dahi mereka hampir saja bertubrukkan karena Ify berbalik. Ternyata Rio, anak baru yang –katanya- pendiam. Ify tersenyum ramah. Tinggi mereka hampir sama. Mungkin Ify lebih tinggi 1 cm.
“Hari ini kan valentine.” Ify mengangguk heran sambil menerima cokelat yang disodorkan Rio. Sebenarnya dia sendiri juga tidak tau apa itu valentine. Hari nasionalkah?
“Aku tunggu kamu di taman kompleksmu, ya. Nanti kalau hujan, kamu jangan pulang dulu. Mungkin aku akan datang saat hujan reda nanti. Aku janji.”
Ify mengangguk sambil mengerenyit heran. Dia sama sekali tidak mengerti, bahkan belum sempat Ify menanyakan untuk apa mereka harus bertemu di taman kompleks pun, Rio sudah berlari meninggalkannya.
                Hujan sudah hampir reda. Ify masih menunggu gelisah. Kalau hujan reda dan Rio belum juga datang, dia akan pulang. Atau Rio hanya ingin mengerjainya? Jahat sekali. Ify mendengus, ingin marah tapi jatuhnya menangis. Dia juga ingin berteman dengan Rio. Tapi Ify sendiri bingung, dulu waktu Sivia mengajaknya berteman, Sivia juga tidak mengajak Ify ke taman untuk menjalin persahabatan.
 Hujan sudah benar-benar reda, hanya saja masih meninggalkan percikan air ditambah air mata Ify. Gadis kecil itu memilih untuk pulang. Dia berjanji tidak akan berbicara dengan Rio kalau besok mereka ketemu di sekolah. Ify benci Rio.
                                                                                *****
                Pak Gio masih sibuk membereskan pekerjaannya. Ternyata memaksa anak semata wayangnya ini cukup sulit. Baru sekali ini Rio, putranya, mendapatkan teman di sekolah baru sampai-sampai tidak ingin pergi lagi. Padahal sebelumnya Rio selalu menurutinya yang selalu pindah dari pulau ke pulau atau negara ke negara, sejak kejadian itu.
“Sebentar saja, Pa!” Teriak Rio sambil mengeluarkan sepeda. Papanya sudah meneriaki karena hujan yang tadi reda sudah turun kembali. Rio sendiri sampai lupa, dan baru ingat ketika dia melihat sebuket bunga mawar untuk Ify. Rio harap gadis itu masih ada di taman. Setidaknya Rio ingin memberikan sebuket bunga ini untuk kenangan, karena Rio tahu. Belum tentu esok hari dia akan kembali ke Jakarta dan bertemu Ify.
                Rio sudah basah kuyup. Namun sampai di taman, Rio tidak menemukan siapa-siapa. Dia hanya melihat seorang bapak-bapak yang sedang menyapu salah satu gazebo. Rio menghampirinya sambil berusaha agar bunga dalam pelukannya tidak basah. Hujan berubah menjadi gerimis, dan reda begitu Rio sampai di dekat bapak-bapak itu.
“Permisi, Pak. Apa tadi ada anak gadis disini? Rambutnya digerai dengan jepit warna putih. Masih memakai seragam SD. Anaknya.... cantik. Ada?” Tanya Rio ragu. Takut mengganggu bapak-bapak tersebut. Tapi tak urung dia juga tersenyum ketika bapak itu menoleh dan tersenyum padanya.
“Tadi ada seorang gadis duduk disini. Sepertinya mencari orang. Tadinya bapak mau menghampiri, bapak kira dia kehilangan ibunya. Eh, setelah hujan reda dia pergi. Jadi bapak pikir dia mampir ke taman untuk berteduh.” Jawab bapak itu lalu meneruskan pekerjaannya.
“Oh.... boleh saya titip ini, Pak?” Rio menyodorkan sebuket bunga.
Bapak itu menerimanya dengan bingung.
“Saya Rio.... kasih ini ke gadis itu, ya. Itupun kalo dia.... kesini lagi.” Suara Rio merendah. Untuk pertama kalinya dia merasa tertarik pada seseorang, tapi justru malah seperti ini jadinya. Ify pasti kecewa. Rio kan sudah janji setelah hujan berhenti dia akan datang. Tapi ternyata, janji tetaplah janji, bukan pertemuan singkat seperti yang Rio harapkan.
                                                                                *****
                Bekas hujan tadi malam membasahi daun-daun depan rumah Ify.  Sepertinya musim hujan berjalan lebih lama ketimbang musim panas. Akhir-akhir ini Ify juga sering berangkat dengan Sivia, sahabatnya sejak kecil, tidak menggunakan sepeda lagi, melainkan diantar oleh Ayah Sivia atau Ayah Ify.
                Pagi ini Ify memasang tampang seangkuh mungkin. Dia tidak akan berbicara pada Rio selama di sekolah. Ify yakin Rio akan menjelaskan sesuatu. Sambil bercermin, Ify tersenyum kemudian cemberut. Ia cepat-cepat keluar kamar ketika terdengar teriakan seseorang dari ruang tamu.
“Sebentar Sivia!”
                                                                                *****
                Ify mengedarkan pandangannya. Rio belum juga datang. Padahal jam sudah menunjukkan hampir lima menit lagi bel masuk berbunyi, namun belum ada tanda-tanda kedatangan Rio, bahkan meskipun Ify sudah menatap pintu gerbang sekolah tanpa berkedip. Ify menatap Sivia yang sepertinya masih santai mengunyah makanan.
“Si anak baru kemana?” Tanya Ify. Sivia tersedak. Buru-buru diambilnya air mineral di tas.
“Rio? Memangnya kamu nggak tau, Fy? Oh, ya. Aku kan tetangganya. Dia pindah sekolah. Kemarin baru aja pindah rumah.” Jawab Sivia lalu kembali sibuk dengan makanannya lagi.
Hati Ify mencelos. Dia tidak dekat dengan Rio, tapi kehilangan ‘si anak baru’ itu entah kenapa membuatnya sedih. Padahal Rio sudah janji akan bertemu kembali dengan Ify ketika hujan berhenti. Namun Ify yakin sampai tiba musim panas nanti Rio tidak akan kembali. Rio tidak akan menepati janjinya.

                Sepulang sekolah, Ify menerabas hujan menuju taman dan gazebo tempatnya menunggu Rio kemarin. Suara hati polosnya memaksanya untuk tetap menunggu Rio. Entah keyakinan dari mana, Ify yakin akan bertemu Rio kembali.
“Dek....” suara seseorang dibelakang Ify membuat lamunannya terhenti. Ternyata tukang bersih-bersih taman. Ify tersenyum lemah. Lalu melirik sebuket bunga di tangan bapak-bapak itu. Oh! Jangan-jangan penculik! Ify dalam siaga untuk berdiri dan secepat mungkin berlari jika penculik itu beraksi.
“Ini.... ada titipan dari Rio. Rio atau siapa bapak lupa.” Ucap bapak itu sambil menyodorkan buket bunga tadi. Ify menerimanya dengan mata berbinar. Seumur-umur dia tidak pernah diberi sebuket bunga oleh seseorang. Mungkin coklat, atau tahun ini orang tuanya membelikan boneka barbie dengan rumah-rumahan.
                Ify memeluknya selama perjalanan pulang. Tidak peduli hujan yang begitu derasnya mengguyur dia dan buket bunga itu. Ify merasa Rio adalah orang spesial. Yah, meskipun Ify sendiri belum mengerti, tapi Ify yakin Rio sekarang sahabatnya. Ify terus menerabas tirai hujan itu dan berharap Rio akan datang membawakan payung ketika hujan nanti.
                                                                                *****
                Ify merebahkan tubuhnya dikasur setelah mandi sore. Buket bunga itu masih setia dipandanginya. Setiap dia melihat buket bunga itu, dia ingat wajah Rio. Ify ingin menangis. Padahal sebelumnya dia tidak pernah menangisi apapun yang ada dihatinya. Dia hanya menangis saat terjatuh dari sepeda dan luka-luka. Atau saat Sivia akan pindah sekolah dulu, meskipun tidak jadi karena Ify. Ify menciumi bunga itu yang ternyata masih saja harum. Sambil meraba-raba mahkota bunga itu, Ify merasakan ada yang janggal. Salah satu bunga tampak berat. Ify membuka mahkotanya perlahan-lahan dan....
“Astaga!” Pekik Ify.
Dia menarik seutas tali. Bukan, bukan tali. Tapi sebuah kalung emas putih yang indah dengan nama Ify yang bertabur berlian sehingga ketika terkena sinar tampak menyala. Ify mengerjap. Bukan kesilauan, tapi wajah Rio yang terbayang lagi membuatnya ingin menangis. Ify berlari menuruni anak tangga ketika suara mobil ayahnya memasuki pelataran rumah.
                “Ify! Jangan berlari menuruni tangga! Sudah mama bilang berapa kali?” Mama Ify berteriak lembut sambil meletakkan kembali majalah yang sedari tadi dibacanya. Ify meringis lalu mengekor mamanya, Bu Sinta, menyapa Papanya, Pak Theo.
“Malam.” Sapa Pak Theo sambil mengecup kening Bu Sinta. Ify deg-degan sendiri. Dia ingin menunjukkan kalung pemberian dari Rio.
Kemudian Pak Theo duduk disofa, sementara Bu Sinta melepaskan dasi dan menaruh tas kerjanya di meja. Lalu ia menyodorkan secangkir coffee late. Ify tersenyum senang melihat keharmonisan orang tuanya.
“Ma, Pa. Aku.... aku punya kalung.” Lirih Ify lebih mirip bisikan. Pak Theo dan Bu Sinta menatapnya bingung lalu mereka berdua tertawa.
“Ya.... hadiah ulang tahunmu tahun lalu kan memang kalung dari Papa.” Ujar Bu Sinta sambil mengusap puncak kepala Ify. Namun Ify menggeleng. Dengan tangan gemetar ia menyodorkan kalung pemberian dari Rio. Jelas saja Bu Sinta yang hobi bercerita dengan teman pelanggan khusus –madam penggossip- di cafenya tentang perhiasan pasti hafal betul kalau itu asli.
“Ify? Darimana kamu dapatkan ini?” Tanya Bu Sinta masih terpukau dengan keindahan nama Ify yang terukir disana. Pak Theo hanya meliriknya sebentar, tampak tidak tertarik. “Asli, Ma?” Tanyanya. Bu Sinta mengangguk lalu memakaikannya pada Ify. Cantik. Sempurna.
“Mama masih ingat teman baru Ify? Ini dari Rio.” Jawab Ify. Bu Sinta dan Pak Theo menegang. Mereka saling berpandangan lalu menatap Ify menyelidik.
 “Kamu pacaran, Fy?” Cepat-cepat Ify menggeleng. Dia kan hanya ingin berteman dengan Rio, kenapa dituduh pacaran? Lagian Ify juga belum mengerti pacaran itu apa.
“Rio temanku mungkin dia ingin jadi sahabatku, Ma. Dia juga udah pindah sekolah. Nggak tau dimana. Padahal.... padahal 14 Februari yang lalu dia sudah berjanji akan datang saat hujan berhenti. Apa Ify boleh setiap sore menunggu ditaman untuk menunggu Rio, Ma? Ify ingin jadi sahabatnya Rio....”
“Ya sudah. Kamu masuk ke kamar. Tidur. Sholat dulu jangan lupa. Good night little flower.” Perintah Bu Sinta sambil mengecup puncak kepala Ify. Ify mengangguk lalu mendekati Pak Theo untuk dikecup juga. “Good night Little Flower.” Bisik Pak Theo.
“Apa yang ada dipikiranmu, Pa? Rio itu.... timingnya benar-benar pas. 14 Februari, Valentine.” Lirih Bu Sinta ketika mendengar suara pintu kamar Ify yang ditutup. Pak Theo hanya tersenyum menanggapinya.

                                                                                *****